Great Grace

Christian Youth Blog

Amazing Grace – Chapter 6 June 12, 2012

Filed under: Uncategorized — gracely22 @ 10:00 pm

Chapter 6

Kedatangan Daniel sedikit banyak membuat Gege sedih dan lega sekaligus.Sedih, karena Gege harus “mengusir” Daniel dari hidupnya, dan lega karena Gege tidak perlu menyimpan rahasia semacam itu lagi dari Daniel.Paling tidak, Gege membuka kekurangannya sebelum semua terlambat, sebelum Gege mulai mengasihi Daniel secara spesial.

Keesokan harinya, Gege pergi ke sebuah pantai yang agak jauh dari kota. Seperti biasanya, ia sendirian. Ia tidak ingin ditemani siapapun dan diikuti siapapun. Karena itu ia berangkat sebelum fajar menyingsing. Dengan setelan lengkap, baju tangan panjang, kaos kaki, syal, dan celana training panjang, ia menyetir sendirian menuju tempat yang dimaksud.

Ia melihat sebuah pohon besar yang tumbang tergeletak di bibir pantai. Ia segera kesana dan membawa kantong pelastik besar yang entah apa isinya.

Saat ia duduk di pohon itu, ia mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan bening didalam kantong itu dan sebuah kotak kertas hitam kecil. Lalu ia mengeluarkan isi dari kantong pelastik besar itu semuanya. Isi kantong itu ternyata adalah beberapa buah kotak rokok besar kira-kira ada 6 buah berisi masing-masing 16 batang yang belum dibuka.

Bersamaan dengan bungkus rokok itu terdapat sebuah benda kecil berkilau tajam.Ya, itu adalah sebuah cutter.Cutter yang sering dipakai Gege untuk melukai dirinya sendiri.

Lalu ia mengeluarkan sebuah headset yang sudah dihubungkan dengan handphone yang ada di kantungnya. Ia mendengarkan musik, musik rohani yang ia gemari dan mulai mengocok kotak kecil hitam dan menggenggam erat botol dengan cairan bening itu.

Saat menutup mata rapat-rapat, berbagai memori terlintas dipikirannya. Saat ia mulai merokok, saat kakaknya sendiri menyerahkannya pada pria hidung belang, saat ia melihat ibunya meninggal, dan saat ia dinyatakan kanker paru-paru.

Botol yang ia pegang mengkerut karena kencangnya genggaman Gege. Tersadar akan hal itu, Gege membuka mata dan membuka tutup botol dan menumpahkan cairan itu ke atas tumpukkan rokok itu.

Setelah dirasanya cukup, ia melempar botol itu ke tumpukkan rokok yang telah basah. Ia mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkan sebatang korek dari dalam kotak hitam yang dipegangnya tadi. Ia menggesek ujung batang korek itu hingga apinya menyala dan melemparnya ke tumpukkan rokok tadi hingga menimbulkan kepulan api yang besar.

Api itu kian membesar dan membesar. Matanya berbinar-binar memandang indahnya api itu. Dengan tenang ia memandang api itu dengan senyuman. Tidak ada lagi rokok, tidak ada lagi cutter.Ia tidak ingin lagi merusak tubuhnya, tidak ingin lagi!

Salah satu organ tubuhnya kini telah rusak.Ia tidak tahu berapa lama lagi ia akan bertahan dengan salah satu organ yang paling dibutuhkan oleh tubuhnya sendiri. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia akan bernapas dengan paru-paru semacam ini. Yang ia tahu adalah, ia masih memiliki waktu untuk digunakan, sebaik-baiknya, apa saja yang dapat ia kerjakan akan ia lakukan, untukNya yang telah memberikannya kesempatan hidup dan kesempatan mengenalNya lebih dalam lagi.

Dan tubuhnya, ia tahu, tubuhnya bukan miliknya. Tak banyak yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki keadaan tubuhnya. Ia hanya memiliki sedikit waktu, hanya sedikit, untuk berserah, berserah hanya pada DIA yang empunya kehidupan.
Dan ketika ia pulang saat matahari mulai meninggi, headset itu tidak terlepas dari telinganya. Ia menyetir dengan tenang dan santai. Dadanya terasa lebih ringan dari biasanya.

Hari rabu, dua minggu kemudian, seperti biasa Gege datang untuk latihan ibadah Youth hari sabtu. Tubuhnya terasa lebih baik, dan ia merasa lebih segar dan siap dari biasanya.

Hari ini semangatnya terasa berkobar, bahkan walaupun itu hanya sebuah latihan kecil yang belum tentu seluruh pelayan yang bertugas dapat berhadir dan berlatih bersama.

Ia memarkir mobilnya didepan Gereja dan segera turun. Wajahnya terlihat lebih merah walaupun keringat masih membuat rambut dan kepalanya terlihat lembab. Tubuh kurusnya terlihat lebih segar dan enerjik, senyum diwajahnya juga tidak pudar. Ia berlari kecil ke sebuah cermin besar yang digantung di sebuah pilar besar dekat garasi mobil pastori di lantai dasar. Dengan semangat, ia mengeluarkan sisir dari ransel dan segera menyisir rambutnya.

Lengan kemejanya ia betulkan sampai ke pergelangan tangan. Tali sepatunya ia perbaiki, dan rambutnya ia kuncir ekor kuda. Setelah memperbaiki letak poni dan posisi kemejanya, ia langsung ke atas dengan semangat.

Di tengah jalan sebelum memasuki ruang ibadah khusus pemuda, saat ia berada beberapa inci menuju pintu yang sedikit terbuka, tali sepatu yang sebelah kirinya terlepas, ia sadar lalu berjongkok memperbaiki tali sepatunya.

Dan tiba-tiba ia mendengar sebuah pembicaraan.

“Ketua pelayanan mibar?”Kata seorang laki-laki.Gege mengenali itu sebagai suara Moses.Gege mengerutkan kening.Ia berdiri namun tidak masuk. Ia hanya berdiri.

“Kak James yang bilang,” kata seorang wanita yang biasa menjadi singer bernama Talita.“Rencananya begitu sih.”
Samar-samar, ia melihat sosok Daniel dari daun pintu itu.

“Emangnya Gege tu cocok apa?” Sambung Talita lagi.“Aku nggak bisa begitu aja setuju. Bukankah banyak jemaat lama yang lain yang bisa dijadikan sosok pemimpin?”

“Sama,” kata Moses menyetujui.

“Ya memang lebih baik jemaat lama,” kata sebuah suara perempuan lain yang tidak bisa Gege lihat dimana posisi ia berada. Mungkin ia berdiri di ujung, atau dibalik drum. Yang pasti didalam ruangan tersebut ada kira-kira empat orang.

“Dan, denger-denger kamu deket sama Gege,” kata Talita. “Emang orangnya gimana?”

Daniel yang tadi sempat melamun terlihat kaget dan segera menepis tudingan itu, “Eh?Si Gege tuh yang deketin aku.Aku kan nggak ada perasaan apa-apa sama dia.”

Talita penasaran dan tetap menggali informasi, “Tapi kalian memang pernah dekat kan?”

Daniel tak bisa mengelak, “Iya memang dekat.Dia orangnya ketus.Untuk mendekati dia, bukan hal yang mudah.”

“Ketus gimana maksudnya?” Tanya Talita. Talita mendengus dan mengangkat alisnya sebelah, “bukannya kamu yang sering ke kost Gege hayooo???”

Daniel terdiam.

“Kamu hati-hati lho kalau deket dia.”

“Emang kenapa,” tanya Daniel.

“Denger-denger tuh anak junkie,” kata Talita mengecilkan suaranya sedikit.Moses terlihat mengangkat alisnya sebelah tanda tak percaya.Daniel menatap Talita tanpa berkata-kata.Entah Talita tahu dari mana soal Gege.

“Kamu tahu dari mana Ta?” Tanya Daniel.

“Aku kan sekampus sama dia. Dia itu angkatan lama. Kadang aku sama dia satu kelas di beberapa mata kuliah tertentu. Memang sih kalau pergaulan zaman sekarang itu hal yang lumrah. Tapi come on!Kita ini di Gereja.Pantes nggak seorang junkie jadi WL apalagi ketua mimbar.Aku sih ogah bilang iya.”

“Iya, dia kan sering pingsan juga di Gereja. Entah sakit apa juga tuh anak,” akhirnya Gege mengenali suara itu, tetapi ia lupa siapa namanya.

Moses menatap Talita dengan penasaran, “Apa kamu yakin kalau dia masih jungkie?”

Talita mengangkat bahu, “Nggak tahu, tapi kayaknya sih masih.”

“Dari mana kamu yakin kalau dia masih?”Tanya Moses lagi.

“Lihat aja gayanya dia. Apa nggak kelihatan?”Kata Talita meyakinkan.

“Matanya sayu, hitam banget bagian bawah matanya, badan kurus, bibirnya juga agak hitam.Kayaknya sih perokok berat dia tuh.Dia bukan orang yang bagus buat dipacarin.”Kata perempuan itu lagi.

Daniel sedari tadi hanya terdiam.Ia tidak ingin menambah-nambah lagi. Ternyata Talita memang tahu, namun Daniel
tidak yakin apakah Gege masih menggunakan barang tersebut atau tidak.Mungkin saja Gege sudah berhenti memakai.Tentulah penggunaan barang tersebut tak semerta-merta dapat berhenti dengan mudah.Pastilah ada tahapan yang membuat tersiksa seperti rehabilitasi narkoba yang sering terlihat di film-film.

“Pokoknya koordinator pelayanan mimbar jangan Gege.Lagi pula kita nggak begitu kenal dia, track recordnya belum begitu jelas juga.”Kata suara perempuan itu.

“Kamu aja deh yang jadi ketua pelayanan mimbar Deb,” kata Talita.

“Aku nggak tahu siapa yang akan terpilih. Yang jelas kalau terpilih, aku tidak akan nolah. Tetapi kalau nggak terpilih, bukan masalah bagiku.Yang penting pelayanan bisa berjalan dengan baik.”

Ternyata, suara perempuan itu Debi yang ia pikir selalu baik padanya. Diluar, Gege berdiri terpaku. Belum ada tetesan air mata yang keluar, namun ia dirundung senyap. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding. Dan menutup matanya.Ia berusaha mengatur alur napasnya dengan peluh yang bercucuran. Dalam hatinya ia berkata: Daniel, kamu yang deketin aku… Bukan aku yang kejar-kejar kamu!

Inikah konsekuensi yang harus ia tanggung saat menjadi pelayan? Ya, ia harus siap untuk hal ini. Bahkan ketika satu-satunya orang yang ia harapkan dapat membelanya di mata orang-orang yang memandang jijik padanya, malah tidak mengakui keberadaannya.

Dari bawah terdengar langkah kaki beberapa orang.Gege segera mengembalikan akal sehatnya.Ia turun kebawah dengan pelan dan menyambut beberapa singer yang lain. Berpura-pura bersama naik ke atas. Dan ia berhasil memainkan lakon seolah-olah ia tidak mendengar apapun dan tidak terjadi apapun hingga akhir latihan.

“God, should I hate myself?”

Kata-kata itu terus keluar dari mulut Gege setelah pulang dari latihan. Di dalam mobil, ia tak henti-hentinya mengatakan hal itu.

Tak jauh dari Gereja, Gege melihat sosok perempuan berjalan sendirian entah menuju ke mana.Ia lalu mengenali sosok itu sebagai istri dari pendeta muda James. Gege langsung berhenti dan membuka jendela.

“Kak, mau ke mana?”

Istri dari pendeta muda James itu lalu menyadari ada yang berhenti di sampingnya dan juga mengenali Gege yang duduk dalam mobil.“Mau cari tumpangan.Mau ke minimarket, ada yang hendak dibeli, Ge. James kan lagi pergi ke luar kota.”

“Naik mobilku aja, aku antar.”

Ia tidak menolak.

Setelah selesai belanja, mereka lalu pulang kembali ke pastori.Gege tidak bicara banyak, istri pendeta muda James pun orang yang pendiam.Namun satu pertanyaan terbersit dipikirannya.

“Kak, boleh tanya?”

“Ya boleh…”

Gege lalu mencari tempat sepi dimana ia gampang memarkir mobilnya. Sejenak suasana menjadi hening, wanita itu memandang Gege pertanda menunggu Gege yang tertunduk itu bicara.

“Kakak pernah melakukan suatu hal di masa lalu?Kesalahan yang besar?Really really big mistakes?”

“Pernah.Sangat banyak.”

Dengan kepala masih menunduk memandang setir, Gege bertanya lagi.“Apa kakak pernah berharap bisa kembali ke masa lalu dan mencegah melakukan kesalahan yang besar itu?”

Wanita iru memandang ke atas dan berpikir.“Tidak.”

Mata Gege membesar, lalu ia memandang wanita itu dengan pandangan tidak mengerti. “Kalau kakak dikasih kesempatan untuk mengulang waktu, kesalahan apa yang tidak ingin kakak lakukan?”

Lalu siluet senyuman terpancar dari wajahnya ditengah kegelapan malam.Dengan lembut wanita itu menjawab.“Tidak ada.”

“Kenapa?”

“Karena….. Kalau aku tidak melakukan kesalahan, aku tidak akan pernah belajar untuk melakukan segala sesuatu dengan benar.”

Jawaban singkat, namun sungguh luar biasa logis hingga membuat Gege mengangguk.Ia sendiri jadi bingung ingin bertanya apa lagi, karena jawaban itu sudah menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan yang merundung benaknya.

Haruskah ia membenci dirinya sendiri? Haruskah ia tidak muncul dihadapan khalayak? haruskah ia pergi dan pergi ke tempat dimana tidak ada seorangpun yang mengenalnya dan memulai hidup baru? Seluruh pertanyaan itu sudah terjawab.

Ia tahu kini, ia tidak perlu menghindar, ia tidak perlu membenci dirinya sendiri, dan tidak perlu pergi dan mengasingkan diri. Ia hanya perlu belajar untuk melakukan hal yang benar.

Wanita itu tersenyum pada Gege dan memegang tangan Gege, “Aku tahu kamu punya sesuatu yang dipendam.Sesuatu yang kamu lakukan di masa lalu yang membuatmu sering merasa tidak layak. Aku pun tidak akan bertanya apa yang kamu pernah lakukan dulu. Namun kini kau mengerti tentang kebenaran bukan?Berubahlah oleh pembaharuan budimu.Itu sudah cukup.”

Seperti angin semilir berhembus didada.Petikan ayat Alkitab yang benar-benar menjadi jawaban.

———————to be continued———————-

 

Amazing Grace chapter 5 May 25, 2012

Filed under: about YOUTH,Fiksi Religi — gracely22 @ 8:47 pm
Tags: , , , ,

Bertempat di sebuah Gereja beraliran kharismatik, dimana terdapat istilah WL (Worship Leader), WL adalah orang yang bertugas menjadi leader puji-pujian dan penyembahan dalam sebuah kebaktian. Untuk Gereja karismatik, WL merupakan posisi yang cukup berpengaruh dalam ibadah dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi WL.
Saat seorang perempuan muda datang ke Gereja tersebut, beberapa hal unik terjadi dalam kehidupan pelayan-pelayan didalam Gereja. Kehidupan kelam perempuan itu menghantarkan dia ke dalam sebuah penolakkan terselubung dari teman-teman sepelayanannya.
Beberapa hal unik yang diluar kendalinya terjadi. Hingga suatu penyakit hinggap pada dirinya dan mulai menggerogoti tubuhnya.

Chapter 5

Keringat Gege merembes, baju hitamnya terlihat basah. Bukan karena malam ini panas, tetapi lebih dari itu.

Yang ia inginkan adalah cepat sampai di kosnya untuk membaringkan tubuhnya yang lelah, melepaskan segala tetek bengek kehidupan dunianya di atas sebuah bantal dan sebuah guling. Walaupun ia tahu, kedua hal krusial dalam kamar tersebut tidak dapat sepenuhnya menghilangkan kegalauannya malam ini. Tapi setidaknya kedua barang itu bisa membuatnya menutup mata sejenak. Lalu sebuah panggilan dari nomor tak dikenal muncul di ponselnya.

Gege memperhatikan nomor itu sejenak dan mengangkatnya, “Halo?”

“Hai, selamat malam.”

Gege mengerutkan keningnya. Ia tidak mengenali suara orang itu, “Siapa ini?”

Orang itu berdeham sebentar dan melanjutkan, “Ini gue, Daniel. Apa aku ganggu?”

“Oh, Daniel… Nggak, kamu nggak ganggu aku.”

“Kalo boleh tahu, lagi ngapain?”

“Cuma tiduran, aku agak lelah.”

“Sudah makan?”

Pertanyaan Daniel itu agak aneh ditelinga Gege sehingga ia mengernyitkan keningnya. Tidak biasa baginya.

“Belum.”

“Cepat makan gih.”

“Hmm, ya…”

“Oke, selamat malam.”

Gege menutup teleponnya dengan sedikit kesal. Untuk apa menelepon malam-malan hanya untuk mengingatkan
makan? Nggak efisien. Buang-buang waktu dan pulsa. Namun sisi positifnya, ia lalu ingat kalau ia harus makan. Namun pikirnya menolak, hingga ia tidak jadi makan.

Ia berjalan ke depan cermin. Ia memperhatikan tubuhnya yang makin kurus. Di pipi dan bahunya terlihat tulang-tulang yang menonjol. Lalu ia kembali ke tempat tidur dan berbaring. Ia memeluk gulingnya erat-erat lalu menangis. Kanker paru-paru…Penyakit ini ternyata bersemayam dalam tubuhnya. Lalu pikirannya melayang pada sosok lelaki bernama Daniel.

Daniel terus menghubungi Gege. Gege sendiri bingung, kenapa dengan laki-laki itu karena tidak biasanya.

Mungkin bisa disebut sedikit perhatian dan terlalu banyak tanya. Setiap jam selalu mengirim pesan singkat, walaupun hanya sesekali dibalas oleh Gege.

Hingga pada suatu saat, hari rabu malam selepas latihan saat Gege berjalan menuju tangga turun ke lantai pertama alias pastori, Daniel dengan cepat menahan Gege dengan menyentuh bahunya.

“Ge…”

Gege berbalik, “ya Daniel.”

“Mo ke mana?” katanya lagi sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana.

“Pulang lah, emangnya mau kemana lagi…” Jawab Gege ketus.

“Aku ikut ya.”

Alis kanan Gege terangkat, “ngapain?”

“Aku bosen aja dirumah.”

Gege menunduk sebentar untuk berpikir.

“Gimana Ge? Boleh?”

Gege memandang Daniel, “ya udah boleh…”
* * *

Daniel menderu mobilnya pulang dari kos Gege. Hampir sebulan berlalu, mereka makin dekat. Sering jalan-jalan, makan, ke Gereja bersama, walaupun tidak selalu begitu. Ia lalu melihat SMS yang tiba-tiba masuk ke ponselnya.

Hati2 d jalan ya… Gbu

Ia tersenyum melihat pesan singkat itu. Banyak orang yang tidak mengenal Gege secara langsung. Ia tahu kalau banyak yang kurang suka pada Gege. Namun Daniel merasa ada yang lain dalam diri Gege yang orang lain tidak ketahui. Ia merasa Gege begitu berbeda.

Wajahnya, caranya tersenyum, sifat tertutupnya, membuat Daniel semakin penasaran. Apakah yang membuat gadis ini sangat tertutup. Hingga muncullah satu pertanyaan yang menggelegar dalam benaknya: bisakah ia menjadi bagian dari hidup gadis itu? Untuk menjadi teman dikala susah dan senang? Hanya itu saja untuk lebih dekat dengannya. Hanya itu.

Gege pergi ke apotek untuk membeli obat yang telah habis. Lalu sosok yang sangat familiar baginya muncul. Seorang laki-laki dengan wajah yang mirip dengannya.

Perasaannya berkecamuk saat melihat laki-laki itu. Nafasnya menjadi tidak beraturan, tangannya mengepal, matanya membesar, dan dadanya terlihat naik turun. Ia lalu menunduk, bersembunyi diantara etalase yang berisikan obat-obatan lainnya dan menunggu hingga laki-laki itu pergi.

Gege berdiri dengan wajah pucat. Ia lalu ke kasir, membayar obat yang ia beli lalu cepat-cepat pergi dari apotik itu.

Dengan buru-buru, ia menyetir mobilnya keluar halaman apotek. Tubuhnya menjadi gemetar, ia gugup sekali.

Ia takut bertemu laki-laki itu. Ia takut bertemu Egy.

Lalu ia berpikir apa ia harus pergi ke luar kota untuk menghindari Egy? Namun bagaimana pekerjaannya? Kuliah dan pelayanannya? Tidak, hal itu bukan hal terbaik.

Sejak penyakitnya ketahuan, Gege menyadari kalau dirinya semakin rapuh. Jiwa raganya sangat
rapuh untuk dihancurkan. Sangat rapuh untuk dipatahkan. Dan sangat rapuh untuk diluluhkan. Ia lalu teringat Daniel, mungkin saja ia bisa bercerita padanya.

Tetapi sebuah pikiran menghantuinya. Belum saatnya ia menceritakan kepada Daniel tentang dirinya. Belum, waktunya tidak tepat. Namun haruskah ia terus memendam ini sendirian? Adakah orang yang bisa dipercaya?

Seandainya ia memiliki saudara… Ia menyuarakan sebuah kalimat dalam pikirannya: Tidak ada yang bisa kupercaya, bahkan saudaraku sekalipun…

Berkali-kali Daniel mencoba menghubungi ponsel Gege, namun tidak aktif. Ada apa dengan gadis itu? Memang Gege orang yang sulit didekati, namun menghubunginya bukanlah sesuatu yang sulit. Ia lalu berpikir, apakah terjadi sesuatu yang buruk pada Gege. Atau mungkin ia sedang mengalami kesulitan. Daniel lalu pergi ke kost Gege secepat mungkin.

Saat ia sampai, kost itu terlihat sepi, namun mobil Gege terlihat sudah ada di halaman. Daniel langsung pergi ke kamar Gege dengan perasaan cemas.

Kamar yang terletak paling ujung di lantai 2 tersebut terlihat sepi. Lampu disekitarnya tidak menyala, dan pintu kamarnya tertutup. Seorang gadis lain lewat dan menyapa Daniel.

“Hei, kamu nyari Gege ya?”

“Iya, dia ada nggak?” Tanya Daniel.

“Dari tadi dia ngurung diri di kamar, ketok aja, dia ada kok.” Jawab gadis itu ramah.

“Oke, makasih ya.”

“Sama-sama,” kata Gadis itu sambil berlalu turun ke lantai dasar.

Pelan-pelan, Daniel menuju depan pintu kamar Gege dan mengetuknya.

“Ge…”

Tidak ada yang menjawab. Kamar itu hening sekali. Kemudian Daniel mengetuknya lagi, “Gege…”

Masih tidak ada jawaban. Hening.

Daniel memberanikan diri untuk membuka pintu itu perlahan-lahan, “Gege?”

Lampu kamar tidak menyala, hanya sebuah lampu yang terletak di meja belajar yang menyala, tentu saja lampu tersebut tak cukup untuk menerangi seluruh isi ruangan.

Kamar itu luas, disebelah kanan terdapat lemari pakaian yang besar, disebelah kiri, terdapat kasur empuk yang menghadap ke lemari serta meja belajar yang dekat dengan pintu. Lalu terlihat sosok bayangan di sudut ranjang, dekat dengan meja belajar itu. Terdengar suara seseorang. Napasnya terdengar menderu, dan tidak karuan.

Daniel lalu mencari saklar dan menghidupkan lampunya. Ia mencium bau rokok yang menusuk. Kamar itu terlihat berantakkan. Saat ia menoleh ke kiri, barulah ia mendapatkan orang yang ia cari-cari.

“Gege, aku itu nyariin…” kalimatnya terpotong saat melihat kondisi Gege yang berantakkan. Rambutnya tidak rapi, ia terlihat sangat lusuh. Dan yang lebih berantakkan lagi, ditangannya terdapat sebatang rokok dengan bara yang masih menyala. Disekitar Gege duduk, terdapat asbak dengan beberapa puntung rokok.

“Hai,” kata Gege dengan mata sayu. Frustasi bukan kata yang cukup untuk menggambarkan raut wajah Gege sekarang. Dan Daniel terkejut. Bisa dikatakan “sangat” terkejut ketika melihat kondisi Gege.

Gege menepuk-nepuk lantai disampingnya, pertanda ia ingin Daniel duduk disampingnya.

“Aku nggak merokok, Ge,” kata Daniel.

“Lucu kamu, siapa yang nawarin rokok?” Jawab Gege sambil tertawa miris.

Daniel lalu duduk disamping Gege dan memperhatikan wajahnya. Menyedihkan sekali keadaan Grace sekarang, seperti mayat hidup, tubuhnya terlihat lebih kurus, dan bahkan terlihat ringkih. Lalu Daniel dengan gusar, menaruh puntung rokok yang Gege pegang ke asbaknya dan mematikan bara rokok itu. “Look at you! Kamu kenapa sih Ge, kok kamu jadi gini? Kok sampai merokok segala?”

Dengan pandangan kosong ke depan, Gege balik bertanya, “Aku mau tau sebenarnya tujuan kamu deketin aku itu apa…”

Pertanyaan itu benar-benar seperti peluru yang diletuskan dari sebuah pistol dan menusuk tepat di sasaran.

Daniel menghela napasnya dan duduk bersila. Di benaknya, Daniel masih bertanya-tanya apakah ada penjelasan tentang ini semua. “Sebelum aku jawab, tolong jelaskan, sebenarnya kamu kenapa?”

“Jawab dulu pertanyaanku, baru akan ku ceritakan semuanya. Semua yang ingin kamu tau.”

Daniel tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain selain jujur. “A… Aku semula berpikir, kalau kamu itu gadis dengan pribadi menarik. Aku hanya mau tau tentang kamu lebih dalam. Dan, siapa tau, kita bisa ‘cocok’.”

“Ku rasa kamu mau cewek baik-baik kan?”

Daniel mengangguk.

“Apa kamu berpikir aku cewek yang baik?”

“Sejauh yang ku lihat, kamu bukan tipe cewe yang gampang dideketin cowo. Kamu tertutup, kamu ketus,
menandakan kamu bukan cewe gampangan. Sejauh ini yang bisa ku lihat hanya itu.”

“Dan kamu berpikir kita bisa pacaran, iya khan?”

Walaupun kata-kata Gege begitu frontal, namun hal itu memang benar. Namun Daniel merasa sedikit kecewa saat melihat Gege merokok. Daniel pun berkata,“Aku berharap kamu bisa lebih terbuka.”

Gege mengusap rambutnya, dan Daniel dapat melihat wajahnya yang begitu pucat. “Selama ini, aku nggak punya teman berbagi. Aku nggak punya teman yang bisa aku percaya.”

“Ge, kamu tahu lah… sekarang kita kan dekat. Kamu pasti bisa sharing sama aku,” kata Daniel dengan wajah yang penuh harap. Berharap bahwa ialah yang akan menjadi orang yang mampu meredam kegelisahan hati wanita yang ada di depannya.

Sebelum berkata-kata, air mata Gege turun satu per satu, membuat Daniel tidak tahan dan ia berusaha menghapus air mata Gege. Namun sebelum Daniel menghapus, tangannya telah ditepis oleh Gege sendiri.

“Kamu tahu nggak? Aku ini buruk banget. Aku nggak mau kalau sampai kita nanti pacaran, dan kamu baru tahu buruknya aku bagaimana, kamu akan tersakiti. Karena jujur sejak terakhir kali pacaran beberapa tahun yang lalu, baru kali ini aku bisa benar-benar tertarik pada laki-laki.”

Daniel mengerutkan kening, “Memangnya kamu seburuk apa Ge? Kamu itu luar biasa. Kamu cantik, kamu pendiam, suaramu bagus, bahkan jujur, sewaktu kamu jadi WL, aku kagum sama kamu. Bisa membawa jemaat lebih dalam. Bahkan aku nggak lihat ada kesombongan dalam diri kamu. Pembawaan kamu dan Moses sangat berbeda. Hawanya begitu terasa, Grace… Aku suka… Suka… Aku rindu melayani dengan orang yang bisa ku ajak berbagi, berbagi dalam hal apapun, termasuk cinta.”

Gege tersenyum sinis. Daniel jatuh cinta padanya, ia tahu hal itu. “Kamu jatuh cinta sama orang yang salah!”

Daniel hanya melongo, ia bingung apa yang harus ia katakan. “Ya! Aku memang jatuh cinta sama kamu, aku menyukai kamu! Tolonglah Grace, jangan begini… aku miris banget liat kamu begini tanpa tahu apa yang bisa kulakukan untuk kamu…” Sejenak Daniel terdiam, ia memang tidak terlalu mendengarkan kata-kata terakhir yang Gege ucapkan, tetapi ia ingat. “Tunggu dulu.. alasannya apa? Kenapa kamu jadi bisa mengatakan aku jatuh cinta pada orang yang salah?”

“Hidupku, sebelum masuk Gereja, sangatlah buruk, Dan. Aku perokok berat, banyak hal dihidupku yang ku habiskan hanya dengan hura-hura. Hampir setiap malam, aku pergi ke club, mabuk itu sudah jadi kebiasaan aku. Dan satu hal yang terparah.”

“Apa?”

“Kamu ingat, seseorang yang pernah duduk disamping aku waktu kebaktian minggu sore beberapa minnggu yang lalu? Waktu itu aku pingsan dan dia waktu aku sadar, lagi bicara sama Moses?”

“Egy ya? Abang kamu kan?”

“Bener…”

“Terus apa hubungannya?”

Gege mengambil sebatang rokok dari kotak rokok yang ia letakkan di atas ranjangnya dan menghidupkan baranya. Namun Daniel merebut rokok itu, dengan perlahan ia melepaskan rokok itu dari tangan Gege dan meletakkanya di asbak.

Lalu Gege menunduk, matanya terasa sangat berat, dan ia sangat lelah, bahkan untuk berpikir sedikit saja.

Tetapi ia tetap menguatkan diri untuk menguak sisi tergelap hidupnya. “Dulu… kakak aku, Egy, pernah jual aku ke bandar narkoba. Aku dijadikan, wanita simpanan, selama lebih dari enam bulan. Ya, apa bedanya dengan perempuan sundal? Sama saja kan? Pelacur… bahkan aku sering kali disiksa oleh dia, karena aku sering melawan. Beberapa kali aku nyoba kabur, tapi selalu ketahuan. Nggak ada satupun alat komunikasi yang ada padaku, aku nggak bisa hubungi ibuku, teman-temanku, bahkan polisi. Rumah orang itu begitu jauh dari keramaian, kemana aku harus berteriak? Bahkan untuk makan pun, harus di kamar, setiap hari di kunci, aku nggak boleh keluar!”

Mata Daniel terbelalak lebar. Perasaannya berkecamuk, ia tidak tahu apa yang bisa katakan selain bibirnya yang membentuk huruf ‘o’.

“Kaget kan? Aku pun nggak mau seperti ini!” Kata Gege.“Jujur, terkadang itulah yang membuatku merasa nggak layak. Aku ingin lari, tapi kak James terus membujukku untuk tetap pelayanan. Ya memang, syarat menjadi pelayan di Gereja kita hendaknya ia hidup kudus, dan lahir baru. Aku memang lahir baru, aku sempat terbebas dari merokok dan kehidupan-kehidupanku yang dulu kira-kira selama hampir setahun sebelum aku masuk pelayanan ini. Tapi apakah aku mampu mempertahankan untuk hidup kudus? Lihat aku sekarang!”

“Tapi kan kamu… pelayan… yang….” kata Daniel terbata-bata.

“Yang apa? Coba pikir Dan, pikir!” Kata Gege dengan penuh emosi. “Layakkah aku melayani? Aku bahkan nggak pantas untuk melayani siapapun!!!”

Tubuh Gege gemetar, ia mengusap-usap hidungnya yang merah. Tubuhnya bergetar karena tak mampu menahan rasa bersalah yang tinggi, bukan kepada Daniel, tetapi kepada Yang Maha Mengetahui. Ia merasa semakin tertuduh, terjatuh, dan terpuruk. Apalagi dengan pandangan Daniel yang telah berbeda, tidak seperti dahulu sebelum ia tau semuanya. “Dengan kata lain, aku ini barang bekas…”

Daniel menggelengkan kepalanya, “kamu itu bukan barang bekas. Kamu itu,,,”

“Berharga? Hahaha,” jawab Gege lagi dengan sinis. “Aku udah biasa dengar hal itu dari Debi. O iya, masih ada satu lagi.”

“Apa?”

Gege termenung sesaat, ia sedang mengatur kata-kata manakah yang harus digunakan. Lalu dalam hatinya ia berkata: Good bye Daniel, now you will hate me forever…
* * *

Daniel pergi dari kost Gege dengan senyum yang dipaksakan. Masih teringat dipikirannya saat Gege menyebutkan, “Kamu jatuh cinta sama orang yang salah!”

Hal-hal yang dikatakan Gege membuatnya berpikir keras. Apakah perasaan cinta dalam hatinya ini benar cinta? Atau semacam kekaguman fisik semata? Dan terus terang saja, belakangan ini ia sering tidak konsen pelayanan, karena adanya Gege. Yang ia lihat terus dan terus Gege, motivasinya jadi berubah, dari ingin melayani, menjadi ingin melihat Gege.

Ia merasa sangat bingung, apa yang harus ia lakukan untuk Gege. Ia merasa ilfeel setelah mengetahui yang sebenarnya. Ia ingin sekali menjalin hubungan yang baik dengan Gege, namun ketika mengingat segala yang diucapkan Gege malam itu, ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Aku sendiri bingung, apa yang harus ku lakukan.

Apa lagi saat Daniel mengingat sebuah scene, gambaran itu masih jelas didalam otaknya dan menurut Daniel, itu adalah pengakuan yang sangat menjijikkan.

“Aku junkie,” bisik Gege sambil memperlihatkan kedua tangannya yang penuh luka sayatan. “Darah seorang junkie sudah terkontaminasi obat. Seorang junkie juga akan melakukan hal ini. Saat seorang junkie tidak mendapat narkoba, mereka akan mendapatkannya dengan beberapa macam cara. Bisa dengan minum obat-obatan apapun dalam dosis banyak, menghirup bau lem, dan salah satunya dengan menyayat tangannya sendiri, dan minum darahnya . Hal ini sangat menjijikkan. SANGAT MENJIJIKKAN… Sekarang aku sakit, Dan. Aku sakit… Aku tahu aku nggak akan sembuh lagi. Aku udah terperangkap dalam tubuh ini dan nggak bisa keluar. Aku sakit karena kenajisanku sendiri.”

Daniel ragu, ia tidak tahu apa hubungan ini masih bisa diteruskan atau tidak. Kalaupun hubungan ini berhasil, apakah Daniel bisa menerima Gege seutuhnya dengan segala kekurangan yang ia Gege miliki?

Tidak, ia menyadari dirinya tidak siap. Mentalnya tidak cukup kuat untuk menghadapi masa lalu Gege. Memang manusia tidak akan bisa maju kalau hanya melihat kebelakang, melihat ke masa lalu yang menyakitkan, tetapi mau tidak mau masa lalu seperti itu akan terus menerus menghantui Gege, membuatnya merasa bersalah dan tidak layak sepanjang waktu. Dan jika ada yang mau pada Gege dan masalalunya, orang itu pastilah sangat baik hati. Orang itu pasti sangat hebat.

Perkara pacaran, bukan hanya sekedar mengenal, saling memahami dan menikah. Tetapi lebih kepada orang yang akan dijadikan teman hidup itu mampu menerima keadaan dan kekurangan pasangannya. Apakah ia mampu menjadi seorang teman di dalam susah dan senang? Apakah ia bisa menjadi seseorang yang dapat diandalkan? Atau hanya sebagai pajangan untuk dipamerkan pada setiap orang dan berkata, “lihat, pacarku cantik kan?” Apakah ia akan menjadi seorang sahabat yang menaruh kasih disetiap waktu?

Belum lagi kebiasaan buruk yang masih dilakukan pasangannya. Apakah seorang pasangan hanya bisa marah-marah dan menyuruh pasangannya yang memiliki kebiasaan buruk untuk berhenti seperti Gege yang masih merokok? Ataukah dia akan berusaha mengingatkan pelan-pelan untuk menghentikan kebiasaan itu dengan sabar mengingat sebuah kebiasaan itu adalah hal yang sulit untuk diperbaiki?

Ya memang… Mungkin mentalku tidak cukup kuat untuk hal itu…

—————-to be continued——————-

 

Amazing Grace chapter 4 February 10, 2012

Chapter 4

By: Eva Sumasa

“Dok, saya masih kuat berdiri, kenapa saya harus rawat inap?” Protes Gege pada dokternya.

“Berapa lama lagi kamu akan seperti ini terus, Grace? Kamu lupa cek darah. Sedangkan kondisi kamu sudah menurun drastis. Hari ini juga sampel darah, urin, tinja dan dahak kamu akan saya ambil. Sementara ini, kamu istirahat dulu disini,” kata Dokter Melky sambil membetulkan letak selimut Gege. “O iya, rontgent juga!”

Darah yang muncrat di setir mobil tadi membuatnya ngeri. Ya benar. Ia juga tidak tahu bagaimana caranya ia bisa sampai di rumah sakit dengan selamat, mobilnya juga masih terlihat utuh beserta barang-barang yang didalamnya. Tidak ada hilang atau lecet sama sekali.

Kepalanya masih pusing karena terlalu banyak batuk. Dadanya terasa keram dan tangan kakinya dingin sekali. Hari itu Gege merasa benar-benar tidak baik. Tubuhnya dan mentalnya. Ia agak stress

“Dok, jangan bilang siapa-siapa kalau saya di sini.”

Dokter Melky mengangguk dan pergi. Kemudian seorang perawat yang masuk, membawa suntikkan dan botol-botol kecil untuk menampung sampelnya.
* * *

Baru dua hari di rumah sakit, Gege sudah merasa tidak nyaman. Terlebih lagi ia harus absen kuliah untuk memulihkan kondisi. Ia berharap jangan lama, karena ia tidak ingin sakit ibadah Youth hari sabtu, ibadah minggu atau latihan di hari rabu. Ia sangat menyukai aktifitas-aktifitas semacam itu. Kalau tidak melakukan hal itu ia merasa ada sesuatu yang hilang, dan ia akan merasakan kerinduan dan penyesalan yang luar biasa. Entah merindukan apa, ia tidak tahu. Terkadang disaat sepi dan tidak ada kerjaan, ia ingin sekali pergi ke Gereja, kalau perlu ia ingin tidur disana, menikmati tempat itu dan bernyanyi sepuasnya…

Ibadah Youth malam itu dipimpin oleh Moses tanpa Gege. Gege dianggap tidak sehat sehingga ia dilarang pelayanan. Di kursi jemaat tadi, Gege duduk ditemani Debi, wajahnya sudah pucat sekali. Debi menjaga Gege, ia takut Gege pingsan lagi atau batuk keras.

“Asli gue ngerasa enak banget feel-nya,” kata Moses girang selesai ibadah Youth. “Lihat ga tadi anak-anak? Girang n sukacita banget!”

Daniel manggut-manggut mendengarkan Moses yang sedang bersemangat. Ia terlihat pura-pura mendengarkan.

“Tadi pas gue gini bla bla bla….” Moses menjelaskan panjang lebar pada Daniel. Daniel mendengarkan

Moses bercerita bangga, seperti Daniel tidak ada disana saja. Padahal Daniellah yang memainkan keyboard.
Sempat Daniel menggerutu dalam hati, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Daniel menoleh ke kiri, dan mendapati Gege sedang duduk sendirian didekat tangga. Gege terlihat termenung, memikirkan sesuatu. Ia sendirian, selalu sendirian. Jarang jalan-jalan, ia juga jarang berbincang-bincang dengan orang-orang sekitarnya sehingga terkadang banyak orang yang berpikiran buruk terhadapnya. Tetapi Daniel tidak memikirkan itu. Ia justru kasihan padanya. Mungkin saja ia memiliki masalah yang ia pendam sendiri. Bagi seorang manusia, bukankah itu hal yang tidak baik untuk menyimpan semuanya sendiri. Ia perlu teman untuk berbagi, namun wajahnya menunjukkan kekokohan dan kekerasan hati.
Mungkin itu cuma pikiranku aja, kata Daniel dalam hatinya.

Memang benar, Gege memikirkan sesuatu. Ia memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada dirinya setelah serangkaian tes yang hampir membuatnya muntah karena bau obat tercium dimana-mana.

Ia takut akan sesuatu. Ia sangat takut. Ia kuatir. Hanya saja segala kekuatiran ini membuatnya stress.

Tetapi kalau kekuatirannya ini benar, ia tidak tahu bagaimana hidupnya nanti. Namun apa yang ia takutkan? Ketakutan ini sungguh tidak masuk akal. Ia sendiri tidak tahu takut karena apa. Ia hanya mengkuatirkan suaranya. Ia ingin suaranya tetap bagus, hanya itu.

Gege pulang ke rumah dan meletakkan seluruh barang-barang yang ia bawa begitu saja di lantai. Ia tidak ingin makan, ia tidak ingin melakukan apapun. Banyak hal yang ia pikirkan yang menyesakkan isi otaknya.

Seandainya bisa, ia ingin mengeluarkan otaknya dan mencucinya hingga bersih, lalu memasangnya kembali di kepalanya.

Lalu ia merasa dadanya sesak, dan sakit. Tetapi ia masih bisa menahannya sekarang, ia tidak tahu sampai kapan ia akan terus begini, ditambah lagi kondisinya sama sekali tidak jelas.

Gege berdiri didepan cermin dan membuka baju hemnya yang ia lapis dengan singlet putih. Terlihat jelas ditangannya terdapat banyak luka sayatan yang cukup dalam. Luka-luka itu terlihat cukup lama mengering.

Kalau tidak karena luka ini, Gege tidak akan memakai baju lengan panjang setiap hari, setiap saat, kecuali di kamar kost.

Gege menutup matanya. Keningnya mengkerut. Ia teringat masalalunya yang kelam., sedih, hina. Tidak ada yang mau menerimanya. Tidak ada!

Dulu ia memiliki kekasih. Tetapi laki-laki itu meninggalkannya demi wanita lain. Laki-laki itu membuatnya hancur, ia sakit karena cinta. Dan kuliahnya tertunda satu tahun. Dalam umurnya yang ke 22 ini, ia masih tertahan di semester 6.

Orang-orang yang dicintainya, mengkhianatinya, meninggalkannya dan mencampakkannya ke jurang tanpa dasar. Akankah ia memiliki sayap untuk terbang dan keluar dari dalam jurang itu? Jurang dosa yang hampir seluruh manusia menikmatinya, bahkan mereka tidak mencoba keluar.

Padahal disana-sini, Gege melihat lendir kenajisan, asap dosa yang menyesakkan dan tangan-tangan iblis tak terlihat, berubah menjadi rantai yang dikalungkan di leher setiap orang yang menyukainya. Dulu ia diikat rantai itu. Namun ia sendiri tidak tahu apa rantai itu masih mengikatnya, seperti anjing agar tidak lepas atau lari dari rumah.

Rantai itu banyak, ia tahu. Bukan hanya satu iblis, tetapi banyak. Iblis itu naik ke atas dan menggoda orang-orang yang masih belum terjamah tangan dan rantainya. Iblis sangat menyukai manusia, dan manusia juga banyak yang menyukai iblis sehingga merelakan dirinya menjadi tawanan iblis. Mereka diikat, dan mereka menikmati jerat iblis. Tanpa mereka sadari, mereka terlihat seperti hewan. Dan Gege merasa jijik akan hal itu.

Tangannya tiba-tiba gemetaran. Hidungnya berair dan matanya memerah. Ia mengingat semua itu dan menjadi terguncang. Sesuatu dari masa lalunya memanggil-manggil agar Gege kembali.
Gege merasa kedinginan, seperti ada tangan yang menarik wajahnya untuk menoleh ke sebuah benda kecil tajam.

Cutter dengan darah kering.

Ia lalu menggigil dan merasa tubuhnya dingin, napasnya menderu, dan ia memegangi tangannya yang penuh luka sayatan. Aku harus tahan, harus tahan!

Namun ia tidak bisa menahan dirinya. Ia mengambil cutter dan berjalan perlahan ke pojok ruangan, ia duduk dilantai antara lemari dan ranjangnya. Tubuhnya makin menggigil, ia merasa diguncang, diguncang oleh suatu perasaan yang tidak ingin dirasakannya lagi. Rasa ini terlalu pahit, dan ia tahu kalau ini tidak baik. Ketergantungan narkoba ini membuat dirinya larut. Ia merindukan kokain, oxy, ganja…

Dikamar kostnya tidak ada narkoba, obat penenang, atau sejenisnya. Hanya darah. Apa yang bisa dilakukannya untuk mengeluarkan darah tersebut?
Tentu saja, Gege sangat menikmati…
* * *

Grace masuk Gereja pada hari minggu sore. Ia masih merasa malu, apalagi setelah kemarin malam. Padahal sebenarnya tidak perlu merasa malu, karena siapa memangnya yang melihat ia menyayat tangannya? Tetapi tidak tahu kenapa, ia merasakan hal itu tidak baik. Itu dosa. Dan ia yakini sekarang mata Tuhan menyorotinya dengan tajam.

Sejak SMA, ia sudah menjadi junkie. Kokain, shabu-shabu, ganja, sudah jadi makanannya sehari-hari. Itu semua ia dapatkan dari kakaknya yang telah menjadi bandar narkoba semejak lulus SMA. Barang itu dapat dengan mudah ia dapatkan dari kakaknya. Walaupun ada syarat yang harus Gege penuhi untuk mendapatkan barang itu, syarat itu tidak pernah ia permasalahkan sampai ia bertemu laki-laki yang meninggalkannya demi wanita lain itu. Dia Kristen dan selalu mengajak Gege ke Gereja. Tetapi tak disangka, rajin ke Gereja hanya sebuah kedok. Nyatanya tidak ada yang bisa tahu isi hati manusia itu seperti apa.

Gege tahu ini salah, ia menyesal. Tapi tak dipungkiri kemarin ia tidak bisa menahan. Dan ia mengakui itu semua. Sepanjang ibadah, Gege terus dihantui rasa bersalah. Air matanya tak henti-hentinya mengalir saat doa dan pujian penyembahan dilantunkan. Hatinya selalu berteriak minta ampun… Rasanya sakit sekali. Ia seperti ingin merobek seluruh isi dadanya dan mengeluarkan jantungnya yang merah dipenuhi darah dan dosa.
Saat altar call, tubuhnya seperti bergerak sendiri, ia maju dan berlutut. Kakinya tak mampu lagi berdiri menahan beban dosa yang melekat disekujur tubuhnya, ia hampir tersungkur. Dan di saat itulah ia berteriak minta ampun. Ia tidak dapat mengendalikan dirinya, walau ia kelihatan seperti orang gila, ia merasakan Hadirat yang begitu luar biasa. Segala puji dan hormat bagi Tuhan!
* * *

Gege duduk dan meminum tehnya. Matanya sayu karena tidak tidur semalaman. Besok, Senin, dokter memintanya datang ke rumah sakit sekitar jam 10 pagi untuk memberitahukan hasil pemeriksaannya.

Dokter Melky memiliki diagnosa kalau pasiennya itu terkena bronkitis, namun dokter belum bisa memastikan sebelum seluruh sampel selesai diteliti. Gege sempat bingung, kenapa hasil pemeriksaan itu begitu lama.

Dokter Melky memang mengatakan kalau akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Tetapi Gege merasa kalau bukan itu penyebabnya mengapa hasil pemeriksaannya begitu lama keluar.

Tenggorokannya semakin sakit. Terkadang sesak napas, nafsu makannya juga menurun dan napasnya semakin pendek. Seperti orang asma, tetapi Grace tidak pernah memiliki riwayat asma. Namun sekarang ia selalu membawa oksigen kemana-mana. Dan hal itu memang disarankan oleh dokter. Terkadang ia bisa sesak napas, dan hal itu sangat menyiksa.

Dan besoknya Gege ke rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaannya.

Dokter Melky memperhatikan sebuah hasil rontgent paru-paru dan melingkari dengan spidol bagian yang berwarna keputih-putihan dari foto tersebut. Ia merasa sangat lelah hari ini karena terlalu banyak berpikir. Awan kebingungan menaungi hatinya. Ia lalu melihat kertas-kertas hasil pemeriksaan seseorang. Banyak kertas yang ia teliti

“Gimana dok?”

Dokter Melky mengambil hasil rontgent-nya dan memperlihatkan keadaan paru-parunya.

“Lihat ini,” katanya sambil mengarahkan sebuah cahaya merah kecil pada foto rontgent itu. Dokter Melky
menunjukkan paru-paru yang penuh dengan lubang-lubang kecil sementara Gege hanya terdiam menunggu penjelasan dari dokter. “Lalu perhatikan yang ini,” katanya lagi sambil menunjuk ke bagian tengah paru-paru sebelah kiri dekat bronkus. Disana terdapat warna putih yang melebar dan bentuknya tidak rata.

“Apa tuh dok?”

“Ini tumor,” kata Dokter Melky.

“Artinya?”

Dokter Melky menghembuskan napasnya satu kali dengan berat. Dokter Melky tahu kalau ini sudah kesekian kalinya ia memeriksa pasien yang mengidap penyakit seperti ini dan menyaksikan mereka meninggal satu per satu. Sangat ironis. Ia sering bertanya mengapa manusia itu sangat bebal. Manusia melakukan hal-hal konyol untuk merusak tubuh mereka. Bukankah tubuh manusia adalah bait Allah yang harus dijaga? Tidak sadarkah mereka betapa pentingnya arti kesehatan itu?

Sepanjang sejarahnya sebagai dokter, tidak pernah satu kali pun ia tidak menangis saat seorang pasiennya meninggal dunia. Ketika melihat seluruh keluarga menangisi kepergian si pasien, hal itu adalah hal terberat dalam hidupnya. Dan saat ia tidak bisa membantu pasien menyembuhkan penyakitnya, itu merupakan penyesalan terbesar dalam hidupnya. Betapa ilmu pengetahuan yang ia miliki tak selamanya bisa membantu sesamanya. Ilmu pengetahuan tidak cukup untuk mempertahankan hidup manusia. Hanya Tuhan yang bisa, memang hanya Tuhan saja.

Sebagai manusia, ia juga memiliki batas. Ia memang bisa menolong orang lain, menolong orang yang sakit, tetapi biar hebat bagaimana pun ia, ia masih manusia. Manusia yang sosial, yang tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan ornag lain agar bisa saling membantu.

Melihat wajah-wajah sedih pasien membuat hatinya miris, hatinya sakit, ia bisa merasakan penderitaan pasiennya. Namun apa yang bisa ia lakukan? Memberikan obat-obatan dan cara-cara untuk menyembuhkan penyakit pasiennya? Tetap saja itu tidak cukup! Tetap saja pasien itu akan mati!
Namun ia harus memberitahukan anak muda yang ada didepannya ini. Walau bagaimana pun, ia harus mengetahuinya.

“Grace…”

“Ya…?”

—————to be continued——————–

 

Link download Lagu Rohani February 1, 2012

Guys…
Ini sekedar feature tambahan lah buat blog ini,
sekarang temen2 dah bisa search link-link lagu rohani yang sodara mau,
dan mudah2an bisa berguna. kalau yang belum tau cara nyarinya coba temen2 tarik scroll ke pojok kiri bawah,
ada tulisannya “search on this site”, judul lagu yang kalian mau, dan mudah2an lagu yg yang kalian mau itu terpampang disini.
Atau boleh buka page: Download Lagu Rohani, trus teman2 bisa langsung nyari lagu sesuai abjadnya.

Belum lengkap guys, tapi bakal coba di update terus.

Thank all… Kalo ada kritik dan saran, silakan komen…
Tuhan memberkati!^^

 

Amazing Grace chapter 3 August 16, 2011

Filed under: Fiksi Religi — gracely22 @ 6:16 pm
Tags: ,

Chapter 3…

By: Eva Sumasa

 

Gege menyandarkan dirinya di mobil. Ia merasakan tekanan dalam dirinya. Sesuatu yang sulit diterima akal sehat. Atau memang akal sehatnya yang tidak mau menerima sesuatu itu?

Lalu ia berjalan ke samping kiri mobil yang terparkir di sisi jembatan tepat disamping trotoar sebelah kiri. Ia melihat ke kaca spion dan memandang wajahnya.

Betapa kasihan hidup gadis dalam kaca itu, pikirnya. Lalu ia melihat puntung rokok ditangannya sejenak. Aku stress, katanya dalam hati sambil menghisap rokok itu. Ia lupa kapan ia mulai pertama merokok. Yang jelas ia ingat saat SMP, diajak oleh Egy yang waktu itu sudah SMA. Dan ia rata-rata bisa menghabiskan 2-3 bungkus rokok tiap hari.

Benda kecil membara itu ia hisap lagi. Mulutnya membentuk huruf “o”. Lalu terlihat semburan asap berbentuk bundar. Sudah berapa kali ia mencoba berhenti tetapi sulit. Apalagi di masa krisis dalam dirinya seperti saat ini, ia merasa lebih sulit lagi untuk berhenti. Tangannya ingin terus memegang rokok dan tubuhnya tidak ingin berhenti menghirup asapnya yang menyakitkan. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengurangi stress ini.

Sekarang ini, ia memang benar-benar butuh waktu untuk sendiri.

 

Minggu itu, Gege memilih mengambil kebaktian sore, dimana gedung gereja itu tidak penuh seperti kebaktian pagi. Semua yang terjadi padanya sekarang ini membuatnya minder untuk menampakkan diri didepan orang banyak. Belum lagi hari ini ia merasa benar-benar tidak sehat.

Tanpa disangka, seseorang lalu duduk disampingnya.

Egy.

Mata Gege terbelalak, jantungnya berderu kencang. Badannya mulai panas dingin dan ia ketakutan. God, what should I do?

* * *

 

“Eh dia sadar,” kata seseorang yang sangat familiar.

Wajah-wajah itu terlihat samar-samar. Lalu tidak berapa lama menjadi jelas. Debi memperhatikannya dengan kening mengerut. “Ge, kamu baik-baik aja?”

Gege memegangi kepalanya dan beranjak duduk. “Aku pingsan lagi ya?” Katanya sambil melihat-lihat sekeliling, menatap beberapa wajah yang kebanyakan teman sepelayanannya. Lalu tatapannya terpaku pada satu orang yang sedang berdiri di pojok ruangan.

Mata orang itu berbinar-binar menatapnya. Namun Gege membalas tatapan mata itu dengan penuh kejijikan. Aku jijik melihatmu Egy, aku jijik.

Lalu terlihat Moses mendekati orang itu, “mas anter aja pulang. Kasian, kayaknya nggak sehat.”

“Aku nggak mau pulang,” potong Gege.

“Mereka benar dek, kamu harusnya pulang. Ayo abang antar,” kata Egy sambil menarik tangan Gege dengan lembut.

Gege langsung melepaskan tangan Egy dari tangannya, “aku mau pulang sendiri.”

“Ayolah Gege, kamu itu nggak sehat,” kata Debi.

Egy menghembuskan napasnya, “oke. Tapi nanti kalau ada apa-apa, kamu hubungin abang ya.”

Gege memperhatikan Egy yang berlalu dengan dendam yang menancap dalam dihatinya.

* * *

 

“Disini ya?” Tanya Moses sambil menyetir mobil.

Gege hanya mengangguk lemah menjawab pertanyaan Moses.

Sebuah rumah besar dengan dua lantai terlihat di ujung jalan. Moses masuk ke halaman rumah besar itu dan memberhentikan mobilnya di pelataran.

“Makasih sudah antar aku ya,” kata Gege sambil membuka pintu.

“Gege tunggu,” kata Moses.

Gege menoleh dan melihat Moses menatapnya dengan serius hingga ia kembali ke posisi duduknya yang tadi dan menutup pintu. Moses menatap setirnya dengan canggung dan mengendus.

“Kemarin aku ngikutin kamu ke jembatan.”

Gege menoleh ke arah Moses dan menunduk. “Kenapa kamu ngikutin?”

“Aku penasaran. Cuma itu. Jujur aku nggak suka dari awal sama kamu.”

“Kenapa?”

“Kamu cepat banget bergaul. Kamu sering berinteraksi sama temen-temen dibandingkan aku sendiri yang sudah lama berGereja disana.”

“Terus?”

“Aku mengharapkan ada yang bisa nemenin aku di tim WL. Dan Kak James rekomendasikan kamu. Terus terang aku ingin yang menjadi WL adalah orang-orang yang benar-benar mendedikasikan diri untuk melayani Tuhan sepenuh hati. Mengerti maksudku?”

Gege menggeleng.

“Kemarin aku lihat kamu ngerokok…”

Mendengar hal itu, Gege berpaling muka.

“Aku bukan pendeta yang bisa nunjukkin ayat dalam Alkitab tentang larangan rokok. Tapi kamu tahu kan? Rokok itu nggak baik. Untuk seorang pelayan apalagi dia wanita. Jujur aja, aku hampir ilfeel kemarin.”

Gege menghembuskan napasnya. Ia masih terlihat lemah dan agak letih. “Sudah?”

Moses mengangkat wajahnya dan menoleh pada Gege.

“Thanks ya,” kata Gege sambil membuka pintu mobil.

 

Hari ini kepala Gege terasa lebih pusing dari biasanya. Batuknya juga belum berhenti. Obat-obatan yang diberikan dokter terasa tidak mempan lagi. Seakan-akan tubuhnya mengetahui kalau obat itu bukan obat yang tepat. Penampilannya juga terlihat lebih berantakkan dan urak-urakkan.

Entah kenapa ia sering pingsan. Memang ia merasakan lemah yang tidak biasa belakangan ini. Minyak kayu putih dalam botol kecil kini selalu dibawa-bawa oleh Gege kemanapun dia pergi. Termasuk ke ruang kuliah dan Gereja dimana mereka biasa latihan saat hari rabu sore.

Saat ini, Gege ditugaskan menjadi singer. Ia merasakan kalau AC diruangan itu sangat dingin, tapi tidak untuk badannya, hanya kepala.

Debi memperhatikan Gege yang kepalanya berkeringat hingga ke leher. Keringatnya sangat banyak, membuat rambutnya sedikit terlihat lembab. “Gege, kamu kayaknya dari minggu kemarin nggak sehat banget. Kamu udah periksa?”

Gege mengambil sapu tangan dari kantungnya dan melap keningnya, “aku nggak apa-apa Deb.”

“Ayolah, jangan keras kepala gitu. Badan kamu panas dingin. Mungkin kamu tifus. Sakit perut nggak?”

“Nggak.”

Debi menatap Gege dengan kening mengkerut. “Ya udah.”

Saat menyanyi, segalanya jadi tidak maksimal. Kerongkongan Gege terasa sangat kering dan gatal. Suaranya jadi lebih serak dari biasanya.

Namun setiap lagu yang terdengar didalam ruangan itu, yang dinyanyikan olehnya dan teman-teman, membuatnya merasa nyaman. Lantunan musik dan pujian itu seperti angin semilir bagi setiap penikmat indahnya hadirat Tuhan yang selalu membawa aroma yang baru dalam setiap warna kehidupan. Ia tidak ingin berhenti bernyanyi.

Sejenak, Gege lupa dengan sakit yang melanda dadanya, namun tenggorokkannya selalu melolong, seolah-olah ingin lepas dari lehernya. Namun semakin lama, tenggorokkannya semakin sakit.

Kemudian sakit itu menjalar ke dada, punggung, hingga kepala. Di tengah latihan, sesekali Gege memalingkan wajah kebelakang dan batuk-batuk. Debi memperhatikan hal itu dan memberikan tissue padanya. Gege menggumamkan terimakasih pada Debi yang tersenyum sambil bernyanyi.

Moses melihat hal itu dan mulai teralih perhatiannya pada Gege. Apa yang terjadi pada orang ini, yang jelas ia tidak tahu. Apakah kata-katanya kemarin terlalu keras pada Gege sehingga Gege kepikiran dan sakit? Jelas bukan. Gege sakit mulai dari minggu lalu, bukan baru kemarin. Tetapi mau tidak mau, pikiran tentang kondisi Gege terus berkelebat dalam otaknya.

Selesai latihan, seperti biasa, Gege selalu ingin ditinggal sendirian dengan alasan ingin berlatih menyanyi sendirian. Teman-teman yang lain mengerti sehingga tidak ada satupun dari mereka yang tinggal.

Sesekali Gege mencek keluar ruangan kalau-kalau ada yang mengintip atau menguntitnya lagi. Gege tidak suka.

Lalu ia mengeluarkan buku yang Debi berikan padanya untuk dipelajari sendiri. Ia duduk di kursi dan mengambil sebuah gitar angin. Setelah mendapatkan lagu yang ia mau, ia meletakkannya di meja dan mulai memainkan kunci awal.

Masih sesekali ia batuk hingga permainan gitarnya terhenti beberapa kali. Tuhan, tolong, kali ini aku mau belajar.

Tiba-tiba dadanya mulai sakit, tenggorokkannya juga terasa lebih gatal. Ia mengambil tissue yang diberikan Debi tadi, menutup mulutnya dan mulai batuk. Inilah batuk paling keras yang ia rasakan.

Ia melepaskan tissue itu dan melihat permukaannya.

Darah…

 

Gege menelan ludahnya. Di benaknya tersirat ketakutan yang luar biasa. Suaranya tercekat. Ia diam membisu sambil menatap bercak darah yang masih segar di tissue bekas batuknya tadi.

Aku kenapa?

Lalu tiba-tiba seseorang memunculkan kepalanya dibalik pintu.

“Oi Grace, anak-anak mo ke mall. Ikut nda?” Tanya Daniel ceria.

“Nggak bro, lu aja, aku mo disini sementara,” jawab Gege sambil menyembunyikan tissue itu dibalik buku.

“Okelah, gue caw ya….” Daniel menutup pintu.

Lalu seorang perempuan berperawakan mungil, berkulit putih dan bermata sipit masuk. Itu Meike, adik dari Pendeta James.

“Halo Grace,” katanya ramah.

“Hai kak,” jawab Gege sambil membuang tissue itu sebelum Meike melihat, lalu ia kembali duduk dan mengambil gitarnya. Meike sendiri mengambil posisi di kursi keyboard dan memainkan sebuah kunci.

Gege mengikuti kunci itu dengan memetik gitarnya. “Mau nyanyi bareng kak?”

Meike memainkan sebuah intro yang Gege tidak tahu lagu apa itu. Lagu-lagu Gereja merupakan hal baru baginya. “Ini lagunya One Way, judulnya Melodi Hidupku. Tau One Way nggak?”

Dengan polosnya, Gege menggeleng.

“Itu salah satu band rohani Ge. Coba yuk.”

Dengan lembut, Meike mengalunkan setiap kunci dalam keyboard itu, menekan tuts-tutsnya dengan perasaan dan bernyanyi. Ini hal yang paling Gege kagumi, karena setiap orang dalam Gereja pasti dikaruniakan talenta yang luar biasa. Walaupun ia terlihat tidak bisa apa-apa, pasti ada sebuah talenta yang tersimpan dalam dirinya. Hanya jika kita mau Tuhan bentuk, segala yang sederhana pasti akan menjadi lebih indah dihadapanNya.

Bahkan setiap lirik dalam lagu ini, sangat menyentuh. Gege menyadari hidupnya tidak berkenan dihadapanNya. Apalah yang bisa Gege lakukan untuk menyenangkanNya? Hanya suara yang ia miliki, hanya suara…

“Ge,” kata Meike lembut setelah selesai memainkan keyboard itu. Wajah Gege terangkat. “Ada yang mau kamu ceritakan?”

 

 

Malam itu, setelah batuk darah, Gege langsung pergi ke dokter. Ia langsung ke prakter dokter spesialis paru.

“Besok kamu cek darah,” kata dokter itu sambil menyerahkan sebuah surat rekomendasi. “Surat ini kamu bawa, terserah kamu mau cek dimana. Surat ini berlaku di rumah sakit dan laboraturium dimana saja. Kalau kamu mau, kamu juga bisa ke lab saya di Jl. Hassanuddin. Sementara ini saya kasih antibiotik dan obat batuk untuk jangka waktu dua sampai tiga hari.”

“Terimakasih dok,” kata Gege sambil menerima surat itu dan menyimpannya dalam dompet.

Segalanya masih abu-abu, kabur… Gege mengemudikan mobilnya hingga sampai disebuah tempat yang tak pernah terpikir olehnya.

Rumah Egy.

Ternyata tempat dokter praktek itu tidak jauh dari rumahnya yang dulu. Hanya beberapa blok dengan jalan yang berbelok-belok.

Lalu ada seorang laki-laki keluar dari rumah itu, membuat Gege terkejut dan lekas-lekas menderu mobilnya pergi. Ia tidak mau bertemu laki-laki itu. Sejenak, ia mengingat-ingat masa lalu, dimana dirinya larut, hancur, dan tersentak di tanah kekelaman yang mengeluarkan lendir kejijikan bagi setiap manusia yang melayangkan visi padanya. Setiap hari, ia merasa semua orang yang melihatnya seakan-akan menyuruhnya pergi ke pojok untuk dipukul beramai-ramai, seperti perempuan sundal yang dirajam.

Meskipun hatinya masih menyimpan sedikit rasa sayang terhadap kakaknya itu, namun lubang yang kakaknya buat dihatinya terlanjur berdarah dan membusuk. Apakah ini yang dinamakan akar pahit?

Ia merasa tubuhnya menggigil kedinginan. Dingin karena rasa benci, atau sakit? Namun ia merasakan sesak dinapasnya dan memberhentikan mobilnya tepat di sebuah apotik. Oksigen, aku memerlukan oksigen…

 

 

“Nggak!!!!!!!!!!!!!!!!”

“Ge!” Panggil seorang wanita.

Gege melihat siluet seorang wanita muda bermata sipit. Pelan-pelan siluet itu menjadi jelas, bahwa seorang wanita bermata sipit memperhatikannya dengan wajah khawatir.

Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, Gege menatap Meike dengan bingung. “A-apa?”

“Kamu ketiduran Ge,” kata Meike sambil menggosok-gosokkan minyak kayu putih ke leher Gege. Suhu badan Gege panas dingin, hingga tubuhnya dibalutkan selimut.

Lalu ia teringat kalau hari ini adalah hari rabu. Saat sedang istirahat latihan, ia pergi ke ruang tamu dibawah gereja dan ternyata tertidur disana. “Anak-anak mana?”

“Masih latihan diatas.”

Kepalanya masih terasa pusing saat ia duduk. Ia lalu melihat-lihat sekeliling, mendapati kamar bercat hijau terang yang sempit namun panjang. Terdapat sebuah ranjang empuk dekat pintu, stereo dan dua buah lemari besar disamping kiri. Ia lalu mengenali kalau itu adalah kamar Meike.

Mimpi tadi benar-benar membuatnya terguncang. Mimpi yang buruk, di mimpi itu ia tidak bisa bernyanyi. Ia kehilangan suaranya, bahkan di mimpi itu ia bertemu seorang dokter yang memberikan sebuah botol berisi sebuah daging berwarna pink kecil. Dokter itu mengatakan kalau itu adalah pita suaranya.

Itu adalah hal yang paling mengerikan yang pernah ia mimpikan. Suara adalah asset terbesar dalam dirinya. Karena hanya suaralah yang membuatnya bertahan untuk melayani, hanya suaralah yang ia miliki untuk bernyanyi dan masuk dalam lingkungan Gereja. Hanya suara, benar, hanya suara.

Meike lalu mengeluarkan sebuah tissue dengan bercak-bercak darah. “Ini tadi aku temuin waktu kamu ketiduran.”

Tidak tahu harus berkata apa, ia hanya menggeleng pelan sambil menatap tissue itu. Aduh, ini gara-gara aku ketiduran tadi. Harusnya aku buang dulu tissuenya.

“Coba kamu cerita, Ge. Jangan kamu pendam sendiri. Sebenarnya kamu itu kenapa?”

“Aku ISPA kak.”

“Yakin?”

“Hu um…”

Tiba-tiba ia merasakan nyeri lagi didada serta sesak napas. Lalu ia mengeluarkan sebuah botol kecil–mirip semprotan anti serangga–berisi oksigen yang ia beli dari sebuah apotik beberapa hari lalu dan menghirup udaranya.

 

 

“Grace,” panggil Moses saat ia sampai dibawah dan bertemu dengan Gege yang masih duduk. Termenung, merenungkan dirinya dengan segala kelemahan dalam tubuhnya, membuatnya di rundung sejuta tanya yang akan dijawab oleh dokter setelah cek darah dilakukan. Ia belum melakukan cek darah itu, ia lupa.

Gege menggeser tubuhnya supaya Moses bisa duduk disampingnya.

“Ge, kalau kamu sakit, kamu nggak usah melayani dulu.”

Gege langsung menggelengkan kepalanya.

“Kenapa kamu tidur?”

“Aku juga nggak tahu kenapa, mungkin aku kecapean.”

Moses memandangnya sejenak memperhatikan Gege. Lalu tiba-tiba wajahnya memerah dan marah. “Kamu tahu? Aku memang nggak suka sama kamu sejak pertama kali kamu masuk pelayanan disini. Aku tahu kamu itu orang yang nggak baik, bahan kemarin aku ngelihat kamu ngerokok. Apa pantas hal itu dilakukan oleh seorang pelayan? Kamu jangan muna donk!” Katanya dengan nada yang gusar dan volume yang kecil.

“Tahu apa kamu soal muna? Tahu apa kamu soal hidupku?”

Gege lalu terdiam. Ia diselimuti emosi yang sangat tinggi. Ia tidak ingin bertengkar dengan Moses lebih lama lagi. Mungkin Moses akan berbicara hal ini pada anak-anak yang lain. Namun ia tidak perduli. Sebarapa buruk hidupnya, tidak ada yang tahu. Bahkan rokok, itu hanya sebagian kecil dari keburukan hidupnya. Tidak ada yang mengetahui betapa buruknya dirinya.

Betapa hinanya ia dimata manusia, jika mereka mengungkap sisi gelap dari hidupnya. Ia juga sering bertanya, apakan ia masih pantas disebut manusia?

Gege menjauh. Ia pergi dari Gereja itu dengan perasaan kesal dan batuk yang tak kunjung henti. Kepalanya lalu sakit begitu pula dadanya. Ia teringat kalau ia harus cek darah. Tetapi malam-malam begini pastilah tidak ada laboraturium yang buka.

Ia berhenti di pinggir jalan dan batuk keras. Matanya tertutup dan tangan sebelah kiri meremas dada karena saking sakitnya.

Lalu ia membuka mata dan melihat tangannya dan setir mobilnya menempel bercak darah dalam jumlah banyak.

* * *

 

WL Finger Commander August 10, 2011

Filed under: Pelayanan — gracely22 @ 7:42 am
Tags: , , ,

Kini saya akan membahas tentang pelayanan WL. Sebelum masuk lebih dalam. Mari kita tengok kode-kode yang dipakai dalam pelayanan ini. Didalam WL terdapat beberapa kode jari. Dan WL hendaknya hapal dengan kode jari ini (finger code, saya lebih suka menyebutnya finger commander, hehe). Biasanya kode jari ini ditujukan pada pemain musik dan biasanya diacungkan 4-8 detik sebelum kata-kata pertama dinyanyikan. Berikut model jarinya:

1.

Ini adalah model jari yang mengacungkan jari telunjuk. Kode ini fungsinya untuk masuk ke bait pertama atau ke bait dengan nada yang sama dengan bait pertama.

Setelah lagunya mengalir sampai akhir reff dan masuk ke bait lain dengan kata-kata berbeda namun dengan nada yang sama, maka kode jari ini akan diperlukan dengan letak seperti ini:

Megahlah TahtaNya, p’nuh kemuliaanNya

Bumi bersuka, bumi bersuka

TerangNya bersinar, keg’lapan t’lah sirna

Sujudlah padaNya, sujudlah padaNya

Reff:

Besarlah Tuhan, nyanyikan besarlah Tuhan

S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

Abadi TahtaNya, kuasa ditanganNya

Alfa dan Omega, Alfa dan Omega

Allah Tritunggal, Ketiga yang Esa

Ajaib dan mulia, Ajaib dan Mulia

 2. 

Dua jari diacungkan, jari telunjuk dan jari tengah. Kode ini berfungsi saat masuk Reff sebuah lagu.

Reff:

Besarlah Tuhan, nyanyikan besarlah Tuhan

S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

3.

Tiga jari terakhir diacungkan, jari tengah, jari manis, dan kelingking. Fungsinya untuk mengarahkan musik saat masuk ending lagu. Biasanya ending lagu itu terdapat di bagian akhir Reff dan biasanya ending adalah 3 kali, dan saat memasuki ending yang ke 2, tiga jari ini tetap diacungkan.

Ending: S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

4.

Kode jari hanya kelingking yang mengacung. Kode ini pertanda ending terakhir sebuah lagu. Contohnya:

Ending: S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

 S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

S’luruh semesta ajaib (end)

Besarlah, Dia Tuhan

5.

Kode tangan dikepal tanpa ada jari mengacung. Berfungsi untuk menandakan kalau lagu ini berakhir.

S’luruh semesta ajaib (end)

Besarlah, Dia Tuhan

Kode ini berguna untuk mengakhiri sebuah lagu. Kode ini tidak hanya berfungsi pada saat kode 3 dan 4 telah diberikan, tetapi kode ini bisa di pakai untuk mengakhiri langsung sebuah lagu tanpa adanya ending 3 kali.

6. 

Kode jari mengacungkan jempol dan kelingking. Fungsinya mengalihkan lagu satu ke lagu yang lain langsung alias MEDLEY saat ending lagu pertama menuju bait pertama lagu ke dua. Misalnya:

Ending: S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

S’luruh semesta ajaib (end)

Besarlah, Dia Tuhan

 Kami memuji kebesaranMu

Ajaib Tuhan, ajaib Tuhan

Kami memuji kebesaranMu

Ajaib Tuhan, ajaib Tuhan

Inilah finger commander yang biasa dipakai WL. Kalau secara keseluruhan, lagu ini akan berbentuk seperti ini:

Megahlah TahtaNya, p’nuh kemuliaanNya

Bumi bersuka, bumi bersuka

TerangNya bersinar, keg’lapan t’lah sirna

Sujudlah padaNya, sujudlah padaNya

Reff:

Besarlah Tuhan, nyanyikan besarlah Tuhan

S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

Abadi tahtaNya, kuasa ditanganNya

Alfa dan Omega, Alfa dan Omega

Allah Tritunggal, Ketiga yang Esa

Ajaib dan mulia, Ajaib dan Mulia

Reff:

Besarlah Tuhan, nyanyikan besarlah Tuhan

Ending: S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

 S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

S’luruh semesta ajaib (ending-langsung ke lagu ke 2)

Kami memuji kebesaranMu

Ajaib Tuhan, ajaib Tuhan

Kami memuji kebesaranMu

Ajaib Tuhan, ajaib Tuhan

Ajaib Tuhan, ajaib Tuhan

Lanjuttttt…!!!!!!

7.

Kode jari hanya jempol terangkat tapi dalam posisi kebawah (thumbs down). Kode ini berguna saat WL menurunkan nada suatu lagu.

8. 

Kode jari hanya jempol yang terangkat (thumbs up). Kode ini berguna saat WL inginkan overtune atau menaikan nada dasar suatu lagu namun tetap dalam komposisi dan harmoni yang sama.

Ada kemungkinan para pemain musik terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam menentukan nada lagu yang dinyanyikan, jadi kode 7 dan 8 sangat berguna sekali untuk menyesuaikan nada musik, suara WL, dan suara jemaat itu sendiri.

Kode 8 ini juga dapat memperindah lagu dan memberi tekanan saat overtune.

Ada penekanan emusional ketika kita menyelipkan overtune terutama saat Reff. Misalnya bait pertama-reff, masuk lagi bait pertama-reff, dan reff lagi. Kita bisa menyelipkan overtune antara reff berulang. Misalnya lagu Besarlah Tuhan:

Bait 1

Reff

Bait 1

Reff

Reff

Reff:

Besarlah Tuhan, nyanyikan besarlah Tuhan

S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

Overtune juga berguna agar lagu tersebut tidak monoton saat reff berulang-ulang.

9.

Kode tiga jari mengacung (telunjuk, jari tengah, jari manis) atau ada juga yang menggunakan seluruh jari. Hal ini untuk memberi kode pada pemain musik bahwa sudah saatnya lagu memasuki bridge. Contohnya:

Reff:

Besarlah Tuhan, nyanyikan besarlah Tuhan

S’luruh semesta ajaib

Besarlah, Dia Tuhan

Bridge:

Mulialah namaNya

Dia layak disembah

Sbab besar dan ajaiblah Dia Tuhan

10.

Pada saat selesai lagu dan hendak masuk penyembahan, (kalau saya seringkali) bisa menggunakan kode tangan yang diputar beberapa kali agar alunan musiknya tetap megah dan tetap dalam suasana penyembahan, agar tidak semakin pelan atau menghilang sama sekali.

Inilah beberapa kode jari yang biasa digunakan para WL dalam memandu puji-pujian. Sejauh ini, saya baru tahu segini (hehehe). Kalau ada yang ingin menambahkan silakan komen. Kolom komen tersedia dibawah…

Tuhan memberkati🙂

 

Amazing Grace chapter 2 August 6, 2011

Filed under: Fiksi Religi — gracely22 @ 12:23 pm
Tags: , ,

Cerita sebelumnya:

Bertempat di sebuah Gereja beraliran kharismatik, dimana terdapat istilah WL (Worship Leader), WL adalah orang yang bertugas menjadi leader puji-pujian dan penyembahan dalam sebuah kebaktian. Untuk Gereja karismatik, WL merupakan posisi yang cukup berpengaruh dalam ibadah dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi WL.

Saat seorang perempuan muda datang ke Gereja tersebut, beberapa hal unik terjadi dalam kehidupan pelayan-pelayan didalam Gereja. Kehidupan kelam perempuan itu menghantarkan dia ke dalam sebuah penolakkan terselubung dari teman-teman sepelayanannya.

Ia masih baru dalam dunia pelayanan, dan hanya satu orang teman yang baik padanya. Hingga pada suatu waktu saat selesai latihan, ia menyendiri dan ditemukan tidak sadarkan diri.

 

Chapter two…

 

Gege membuka mata.

Segalanya putih sampai wajah-wajah yang ia kenal muncul. Moses, Daniel, dan beberapa teman yang lain. Gege mengenal tempat itu. Ia sedang berada di ruang tamu, di pastori di lantai 3 Gerejanya.

“Ada apa?” Tanya Gege memegangi kepalanya yang pusing.

“Kamu pingsan,” kata Daniel yang berdiri di samping sofa, paling dekat dengan Gege yang sedang terbaring lemah.

Moses berdiri dekat meja tamu sambil menggenggam minyak kayu putih, menyorotinya dengan tajam.

Dengan berat, Gege beranjak duduk dan mendapati lengan tangannya terangkat hingga sayatan-sayatan ditangannya muncul sedikit. Melihat hal itu, Gege langsung cepat-cepat menarik turun lengan bajunya yang panjang.

“Gege, kamu kenapa?” Tanya Debi, gadis tinggi bertubuh langsing dan ideal, ia adalah singer dalam pelayanan tersebut. “Tadi badan kamu aku raba panas dingin loh.”

Wajah pucat Gege menyiratkan perasaan yang masih bingung. Tidak banyak yang ia ingat saat berada di ruang kebaktian khusus pemuda tadi.

Lalu Daniel mengambilkannya teh yang telah disiapkan istri kak James tadi dan memberikannya pada Gege untuk diminum. Gege langsung meminum teh yang masih hangat itu.

“Kita antar pulang ya,” kata Moses menawarkan. Tetapi Gege hanya menggeleng.

“Tadi aku ngerasa aneh loh,” kata Gege tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

Debi mengangkat alisnya sebelah, “memangnya aneh kenapa?”

“Aku lagi duduk di mimbar, mau nyanyi sendiri. Ada lagu-lagu Gereja yang masih banyak aku belum tahu,” sambung Gege. Ya setidaknya memang itu yang akan kulakukan setelah aku punya waktu untuk sendirian, kata Gege dalam hati. Gege meminum tehnya dan melanjutkan lagi, “aku nggak tahu perasaan dari mana datangnya. Tadi kayak ada yang hangat. Aku ngelihat kayak ada tangan yang merangkul aku waktu aku duduk di lantai mimbar.”

Beberapa dari mereka bertatap muka satu sama lain. “Memangnya tangan siapa tuh,” tanya Daniel.

Gege mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. “Aku cuma ngerasa hangat, dan… tangan itu… Cuma itu yang kuingat.”

“Gege, kamu kayaknya sakit,” potong Moses. Kita bakal antar kamu pulang ya, atau mau ke dokter dulu? Moses lalu membungkuk dan meraba kening Gege.

“Aku kuat, aku bisa pulang sendiri. Aku nggak apa-apa, tenang aja.”

 

Gege pulang ke kostnya. Tubuhnya masih panas dingin. Ia merasakan sesuatu yang tak biasa tadi di Gereja, tapi apa? Hantukah? Monsterkah? Atau itu hanya halusinasi? Tetapi kehangatan yang ia rasakan begitu nyata.

Dokter tadi mengatakan kalau ia mengalami ISPA. Tetapi besok ia diminta ke rumah laboraturium untuk cek darah. Untuk sementara, dokter hanya memberinya beberapa obat dan vitamin.

Gege tidak habis pikir dengan apa yang dialaminya barusan. Apa yang terjadi sebelum ia pingsan? Ia tidak tahu.

 

Seminggu berlalu, kondisi Gege mulai pulih. Cek darah itu tidak ia lakukan, dan ia sengaja tidak kembali ke dokter karena ia merasa lebih baik setelah meminum obat dokter.

Hari ini hari rabu, hari latihan bagi semua pelayan untuk ibadah youth malam minggu dan ibadah utama minggu. Gege yang sudah terlibat dalam tim WL diminta memimpin lagi ibadah youth, tetapi kali ini bersama Debi, sedangkan Moses diminta menjadi singer.

Debi sangat ramah pada Gege. Mungkin dari semua pemuda yang tergabung di pelayanan mimbar, hanya dia yang paling baik pada Gege. Debi tahu kalau Gege masih baru dan belum tahu banyak tentang lagu rohani, sehingga ia menyiapkan sendiri beberapa lagu yang ia anggap sering dinyanyikan untuk dipelajari Gege. Lagu-lagu itu ia tulis disebuah buku tulis, dan ia berikan kepada Gege.

Selesai latihan, Debi yang mahir memainkan keyboard mengajak Gege berlatih sama-sama. Ia terlihat sangat friendly, berbeda dengan Moses.

“Deb, main yok,” kata Moses.

Debi duduk di kursi keyboard dan menggelengkan kepala, “nggak Ses. Aku mo ajarin Gege lagu baru dulu. Lain kali aja ya…”

Moses terlihat kecewa dan pergi tanpa menyapa Gege. Hari ini bahkan Moses tidak berbicara satu patah kata pun pada Gege. Gege sempat heran, tetapi ia tetap menunjukkan senyumnya pada Moses walaupun Moses tidak membalas.

Gege mengira Moses marah padanya, tetapi Gege sendiri tidak mengerti alasannya kenapa. Selama seminggu ini, Gege berusaha menghapus segala pikiran buruk tentang teman-temannya. Selama ini ia merasa banyak teman-teman yang tidak suka padanya. Dan Gege berusaha untuk tidak menilai teman-teman sepelayanannya seperti itu.

Sering timbul perasaan ingin membenci mereka, namun ia ingat bahwa sekarang ia pelayanan untuk Tuhan. Kasih adalah hal yang paling krusial dalam pelayanan, kalau tidak memiliki kasih terhadap sesama terlebih Tuhan, berarti sia-sialah pelayanan itu ada. Walaupun ia baru-baru saja aktif pelayanan dan belum tahu sama sekali unsur-unsur penting dalam melayani, setidaknya hal itu yang ia ingat saat Kak James menyampaikan renungan Firman Tuhan saat ibadah Youth kira-kira tiga minggu lalu, yaitu tentang KASIH.

Suara-suara itu sering muncul dikepala Gege, menghasut Gege untuk membenci mereka semua. Hingga Gege sering merasa sakit kepala karena ingin menghilangkan gemuruh kebencian yang muncul dari awan gelap yang menaungi seluruh pikiran Gege.

Gege menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran itu. Lalu Gege membuka buku dan mendapati beberapa lagu, ada yang dari Nikita, True Worshippers, Sari Simorangkir, dan lain-lain.

Kemudian ada sebuah lagu, Debi tidak mencantumkan siapa yang menyanyikan atau menciptakan lagu ini. Judulnya: Pribadi yang Mengenal Hatiku.

“Yuk coba,” kata Debi sambil memainkan instrumennya. Pertama-tama, Debi yang menyanyikan lagu itu, dari bait awal sampai reff. Kemudian, intro, dan kembali ke bait awal, kali ini Gege mencoba menyanyikan sendiri.

 

Hanya Engkau, Pribadi yang mengenal hatiku

Tiada yang tersembunyi bagiMu

S’luruh isi hatiku Kau tahu

Dan bawaku tuk lebih dekat lagi padaMu

Tinggal dalam indahnya dekapan kasihMu

 

Ada sesuatu yang muncul di benak Gege. Sangat segar. Seperti ada yang menyirami tanah hatinya yang sangat gersang. Terkadang ia merasa ia akan terus menerus mengering, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Rasanya seperti embun di pagi hari, menempel di dedaunan yang baru merekah. Tetesan embunnya lalu turun ke tanah hati yang tandus dan menginginkan air.

Tiap kata demi kata yang terucap dalam lagu ini seperti gergaji yang sedang memotong sebuah kayu yang sangat kokoh, membuat serbuk kayunya menyembur. Kata-kata itu merasuk ke dalam hati yang sekokoh kayu itu dan meresap ke bagian yang paling kering. Tanpa sadar, Gege meneteskan air mata.

 

Hati Gege terus bertanya-tanya kenapa hal-hal aneh seperti ini terjadi. Baginya hal-hal ini terasa aneh dan tidak biasa. Kepalanya pun terasa sakit. Banyak hal-hal yang ia rasakan sungguh diluar akal sehat.

Seperti saat ia pingsan. Siapa yang memeluknya? Atau saat menyanyikan lagu rohani tadi bersama Debi. Apa itu? Perasaan macam apa? Apa ia sedang merasakan hal-hal mistis? Ya segala sesuatu yang mistis bisa muncul dimana saja, artinya… setan dapat muncul dimana saja!

Belakangan ini, tenggorokkannya juga selalu gatal. Frekuensinya batuk pun makin sering. Selama sebulan ia merasakan batuk, tetapi tidak parah, batuk itu juga tidak terus menerus. Meskipun ia merasa lebih baik, ia tetap terbangun setiap subuh dan merasakan nyeri di dada.

Belum lagi telepon-telepon dari Egy, kakaknya setiap hari. setiap hari pula, Gege tidak pernah mengangkatnya. SMS Egy yang baru masuk selalu dihapus, ia tidak perduli SMS itu sudah terbuka atau belum.

Sementara itu, ia lalu mengalihkan setir mobilnya menuju ke sebuah jembatan yang jauh dari kota. Sekitar setengah jam perjalanan untuk sampai ke jembatan itu. Jembatan panjang, lebar dan cukup sepi.

Ia memberhentikan mobilnya tepat diatas jembatan. Dibawahnya terdapat aliran sungai yang sangat dalam dan lebar. Ia menatap ke bawah dan merenung. Pikiran-pikiran yang tadi masih menghantuinya.

 

Moses mengikuti kepergian Gege hingga sampai disebuah jembatan. Ia heran mengapa Gege bisa mengambil hati semua orang. Kak James, istri kak James, bahkan Debi, semua menyukainya. Atau hanya perasaannya yang mengatakan kalau semua menyukainya?

Belakangan ini, Moses juga merasa kalau Debi bersikap lebih acuh dari biasanya. Saat Moses bertanya langsung, Debi menjawab, “ah, itu cuma perasaan kamu aja. Kamu tahu kalau kita kan emang jarang ketemu. Kalau ketemu ya palng-paling kan cuma di Gereja, Ses. By the way, sebenarnya selama ini yang cuek itu kamu. Jujur lho, kamu nggak pernah nyapa aku. Kalau nyapa yang perlu-perlunya aja, ke yang lain-lain juga. Apa lagi sama Gege. Kamu sinisnya ampun deh. Maaf aku mungkin terlalu blak-blakkan. Tapi, mungkin kamu bisa bersikap sedikit lebih perhatian sama orang-orang disekeliling kamu.”

Moses mengakui kalau ia memang bersikap seperti itu. Ia tidak menepis tudingan Debi yang memang memojokkannya. Semua yang dikatakan Debi memang kenyataan dan ia sendiri menyadarinya. Tentu saja, Moses memang manusia biasa, biar betapa sempurnanya ia melayani dan menjadi WL, tetap saja tidak bisa menutupi kekurangannya.

Ya, ia tidak pernah menyapa orang kalau hal itu tidak perlu, yang memang tidak penting. “Lu ya lu, gue ya gue”, merupakan prinsip hidupnya.

Ia melihat sekeliling untuk mencari wadah parkir yang jauh dari jembatan. Lalu ia berjalan ke atas jembatan. Dari jauh, ia melihat mobil besar Gege terparkir. Namun ia tidak melihat dimana Gege.

Ia berjalan semakin mendekat, perlahan-lahan agar tidak ketahuan. Lalu ia melihat salah satu sosok yang sedang berdiri menyandar di sisi depan mobil sambil memegang puntung rokok yang masih menyala.